Kabupaten
Sidoarjo
|
|
Dasar hukum
|
-
|
Tanggal
|
-
|
Pemerintahan
|
|
- Bupati
|
H. Saiful Ilah, SH,
MHum
|
- DAU
|
Rp. 759.043.520.000,-(2011)[1]
|
Luas
|
591,59 km2
|
Populasi
|
|
- Total
|
1.682.000 jiwa (2003)
|
- Kepadatan
|
2.843,19 jiwa/km2
|
Demografi
|
|
031
|
|
Pembagian
administratif
|
|
18
|
|
-
|
|
- Situs
web
|
|
Kabupaten Sidoarjo, merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur,Indonesia.
Ibukotanya adalah Sidoarjo. Kabupaten ini berbatasan
dengan Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik di utara, Selat Madura di timur, Kabupaten
Pasuruan di selatan, serta Kabupaten
Mojokerto di barat. Sidoarjo dikenal sebagai penyangga
utama Kota Surabaya, dan
termasuk kawasanGerbangkertosusila.
Sejarah
Sidoarjo dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala.
Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, daerah Sidoarjo bernama Sidokare, yang
merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang
patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang
dibantu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung
Pangabahan. Pada 1859,
berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari
1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian
yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokari. Sidokare dipimpin R. Notopuro
(kemudian bergelar R.T.P Tjokronegoro) yang berasal dari Kasepuhan. Ia adalah
putra dari R.A.P. Tjokronegoro, Bupati Surabaya. Pada tanggal 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare, yang memiliki
konotasi kurang bagus diubah menjadi Kabupaten Sidoarjo.
Setelah R. Notopuro wafat tahun 1862, maka
kakak almarhum 1863 diangkat sebagai bupati, yaitu Bupati R.T.A.A Tjokronegoro
II yang merupakan pindahan dari Lamongan. Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro
mendapat pensiun, sebagai gantinya diangkat R.P. Sumodiredjo pindahan dari
Tulungagung tetapi hanya 3 bulan karena wafat pada tahun itu juga, dan R.A.A.T.
Tjondronegoro I diangkat sebagai gantinya.
Di masa Pedudukan Jepang (8 Maret 1942 - 15 Agustus
1945), daerah deltaSungai
Brantas termasuk Sidoarjo juga berada di bawah
kekuasaan Pemerintahan Militer Jepang (yaitu oleh Kaigun, tentara Laut Jepang).
Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu. Permulaan bulan
Maret 1946 Belanda mulai aktif dalam usaha-usahanya untuk menduduki kembali
daerah ini. Ketika Belanda menduduki Gedangan, pemerintah Indonesia memindahkan
pusat pemerintahan Sidoarjo ke Porong. Daerah Dungus (Kecamatan Sukodono)
menjadi daerah rebutan dengan Belanda. Tanggal 24 Desember 1946, Belanda mulai
menyerang kota Sidoarjo dengan serangan dari jurusan Tulangan. Sidoarjo jatuh
ke tangan Belanda hari itu juga. Pusat pemerintahan Sidoarjo lalu dipindahkan
lagi ke daerah Jombang.
Pemerintahan pendudukan Belanda (dikenal
dengan nama Recomba) berusaha membentuk
kembali pemerintahan seperti pada masa kolonial dulu. Pada November 1948,
dibentuklah Negara Jawa Timur salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Sidoarjo berada di bawah
pemerintahan Recomba hingga tahun 1949. Tanggal 27 Desember 1949, sebagai hasil
kesepakatanKonferensi Meja Bundar, Belanda menyerahkan kembali
Negara Jawa Timur kepada Republik Indonesia, sehingga daerah delta Brantas
dengan sendirinya menjadi daerah Republik Indonesia.
Geografi
Wilayah Kabupaten Sidoarjo berada di dataran
rendah. Sidoarjo dikenal dengan sebutan Kota Delta, karena berada di antara
dua sungai besar pecahan Kali Brantas, yakni Kali Mas dan Kali Porong. Kota
Sidoarjo berada di selatan Surabaya, dan secara geografis kedua kota ini
seolah-olah menyatu.
Pembagian administratif
Kabupaten Sidoarjo terdiri atas 18 kecamatan, yang
dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Kota
kecamatan lain yang cukup besar di Kabupaten Sidoarjo diantaranya Taman, Krian, Candi, Porong
dan Waru.
Perekonomian
Perikanan, industri dan jasa merupakan sektor
perekonomian utama Sidoarjo. Selat Madura di sebelah Timur merupakan daerah
penghasil perikanan, diantaranya ikan, udang, dan kepiting. Logo Kabupaten
menunjukkan bahwa Udang dan Bandeng merupakan komoditi perikanan yang utama
kota ini. Sidoarjo dikenal pula dengan sebutan "Kota Petis". Oleh-oleh makanan khas Sidoarjo
adalahBandeng Asap dan Kerupuk Udang.
Sektor industri di Sidoarjo berkembang cukup
pesat karena lokasi yang berdekatan dengan pusat bisnis kawasan Indonesia Timur
(Surabaya), dekat
dengan Pelabuhan Laut Tanjung Perak maupun Bandar Udara Juanda, memiliki sumber daya
manusia yang produktif serta kondisi sosial politik dan keamanan yang relatif
stabil menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di Sidoarjo. Sektor
industri kecil juga berkembang cukup baik, diantaranya sentra industri
kerajinan tas dan koper di Tanggulangin, sentra industri sandal dan
sepatu di Wedoro - Waru dan Tebel - Gedangan, sentra industri kerupuk di Telasih - Tulangan.
Daftar bupati
Berikut ini adalah daftar bupati yang pernah
menjabat di Kabupaten Sidoarjo sejak masa awal kemerdekaan Indonesia:[2]
§ R.A.A. Soejadi (1933-1949)
§ R. Suriadi Kertosuprojo
(1950-1958)
§ H.A. Chudori Amir
(1958-1959)
§ R.H. Samadikoen (1959-1964)
§ Kol.Pol. H.R. Soedarsono
(1965-1975)
§ Kol.Pol. H. Soewandi
(1975-1985)
§ Kol.Art. Soegondo
(1985-1990)
§ Kol.Inf. Edhi Sanyoto
(1990-1995)
§ Kol.Inf. H. Soedjito
(1995-1999)
§ Drs. Win Hendrarso, MSi
(1999-2010)
§ H. Saiful Ilah, S.H.,M.Hum
(2010-sekarang)
Transportasi
Bandara Internasional Juanda dan terminal bus Purabaya yang dianggap sebagai
"milik" Surabaya, berada di wilayah kabupaten ini. Terminal Purabaya
merupakan gerbang utama Surabaya dari arah selatan, dan salah satu terminal bus
terbesar di Asia Tenggara.Kereta
komuter Surabaya Gubeng-Sidoarjo-Porong menghubungkan kawasan
Sidoarjo dengan Surabaya.
Olahraga
Gelora Delta terdapat di Jalan Pahlawan Kota
Sidoarjo, dimana pernah digunakan untuk pembukaan PON XV Jawa Timur 2002. Dimana
stadion ini adalah markas dari klub sepak bola Deltras Sidoarjo.
Kuliner Khas
§ Kupang Lontong Sidoarjo +
Sate kerang
§ Bandeng presto Sidoarjo





